Cermin Hippermoralitas Penegak Hukum


Kepergian Gayus Tambunan ke Bali kembali mengingatkan buruknya sistem penegakan hukum di Indonesia. Gayus bebas melancong ketika dia seharusnya mendekam di Rumah Tahanan Markas Komando (Rutan Mako) Brimob, Kelapa dua. Depok, Jawa Barat.

Kita tidak bisa membebankan semua persoalan itu kepada Gayus walaupun memang dia bersalah karena ‘melancong’ keluar dari tahanan. Namun sebenarnya dia tidak bisa keluar ketika si penjaga benar-benar menjaganya apapun yang terjadi. Akan tetapi seperti yang kita lihat si penjaga membiarkan Gayus ‘piknik’ sesuai kehendak hatinya.

Ini sudah merupakan bagian dari keruntuhan moral yang menjadi kabur dan simpang siur. Telah terjadi ketidapastian moral dari para penegak hukum dalam hal ini si penjaga rutan. Mengutip pendapatnya George Bataille di dalam bukunya Literature and Evil, bentuk hippermoralitas yaitu suatu keadaan yang terjadi karena ukuran moralitas yang ada tidak dapat dipegang atau dipercaya.

Hal ini bisa terjadi pada kasus-kasus tahanan kasus korupsi yang selalu mendapat keistimewaan di rutan mereka. Hal ini akan semakin mempertegas lemahnya hukum yang ada. Semakin mempertegas adanya hippermoralitas yang terjadi pada system hukum di Indonesia.

Kasus ini seharusnya dapat digunakan para penegak hukum untuk memperbaiki citra mereka. Ketika rakyat semakin tidak percaya dengan mereka bukan tidak mungkin akan muncul kekuatan rakyat yang tidak pernah terfikirkan sebbelumnya oleh pemerintah atau penguasa yang ada.

Ketika lembaga negara (termasuk para penegak hukum) sudah dianggap tidak legitimated dalam menentukan keadilan bagi rakyatnya, bisa saja yang terjadi adalah masyarakat yang akan cenderiung untuk menyelesaikan persoalannya sendiri. Bisa jadi yang justru bertambah adalah tindak kekerasan karena tiap orang ingin memperoleh keadilan yang diinginkan.

Ketika masyarakat merasa tidak mendapatkan keadilan mereka akan menganggap bahwa pemerintah atau siapapun itu telah mempermainkan keadilan yang seharusnya mereka peroleh. Untuk kasus ini, para penegak hukum harus semakin memperkuat internalnya. Pada kasus ini jelas-jelas Gayus dapat lolos berlibur ke Bali.

Siapa yang jadi sorotan? Tentu saja petugas rutan. Pencopotan petugas tersebut belum menyelesaikan masalah. Mengapa? Apakah hal tersebut sudah menjadi jaminan bahwa hal tersebut tidak akan terjadi lagi? Kemudian bisa jadi sebelum ini sudah terjadi kasus serupa ketika para tahanan kasus korupsi yang ditahan di sana juga mendapat keistimewaan yang sama.

Masyarakat harus mendapat kejelasan dan kepastian. Ini terkait kredibilitas para penegak hukum dan cermin moralitas yang mereka anut.

Tulisan ini dimuat di Harian Jogja edisi Selasa, 23 November 2010

4 responses

  1. […] lokal di Jogja yaitu Harian Jogja yang lebih dikenal dengan Harjo. Tulisan saya tersebut berjudul ‘Cermin Hipermoralitas Penegak Hukum’. Dimuat pada 23 November 2010 tepatnya di hari Selasa yang lalu. Ini bukan tulisan pertama saya yang […]

  2. […] lokal di Jogja yaitu Harian Jogja yang lebih dikenal dengan Harjo. Tulisan saya tersebut berjudul ‘Cermin Hipermoralitas Penegak Hukum’. Dimuat pada 23 November 2010 tepatnya di hari Selasa yang lalu.  Ini bukan tulisan pertama saya […]

    1. thanks’s for visit my blog🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: