ABK, ketika separuh hidup harus di laut


24 hingga 28 April 2011 lalu saya mendapat kesempatan untuk pergi ke Surabaya dan Bali mengikuti teman-teman mahasiswa IE di kampus, kebetulan saya diminta untuk meliput. Tulisan ini bukan menceritakan perjalanan tersebut ataupun hasil liputan. Tetapi menceritakan salah satu bagian dari perjalanan tersebut🙂 yaitu obrolan dengan seorang ABK (Anak Buah Kapal)

Saat itu (28/4) perjalanan menyeberang dari Bali ke Banyuwangi menggunakan kapal ‘Marina’. Saya memilih menyendiri tidak selalu bergabung dengan teman-teman mahasiswa peserta kegiatan. Tetapi lebih sering berjalan ke sana kemari sendiri, terkadang juga bergabung untuk sekedar ngobrol sebentar dengan beberapa mahasiswa. Namun akhirnya saya lebih memutuskan untuk pergi sendiri.

Awalnya saya membeli minum, karena perut saya sedikit mual, mungkin akibat AC bus yang cukup dingin dan saya tidak tahan dengan baunya (padahal saya selalu memakai masker ketika di bis) akhirnya di atas kapal saya membeli minuman sereal rasa jahe yang menurut saya rasa jahe nya cukup hangat🙂. Waktu membeli minuman itu ya hanya sekedar membeli tidak bermaksud ngobrol dengan si bapak penjual. Setelah membeli minuman dan meminumnya secara perlahan karena cukup panas itupun sambil berjalan-jalan mengelilingi kapal sambl melihat laut.

Terbukti minuman tersebut cukup ampuh menghilangkan rasa mual dan tidak enak yang ada di badan (haiyaah lebay). Sampai akhirnya saya memutuskan untuk mencari tempat duduk yang jauh dari asap rokok tetapi masih bisa melihat ke luar alias melihat laut, sayang banget kalau tidak menikmatinya hahah,. Saya memutuskan untuk memilih tempat duduk di depan kios tempat saya membeli minum tadi.

Setelah saya duduk eh ada si bapak penjual tadi. Saya adalah tipe orang yang tidak tahan mendiamkan orang yang ada di dekat saya kecuali kalau saya marah sama orang itu. Akhirnya saya ajak ngobrol si bapak itu. Awalnya saya tanya apakah dia menyewa tempat yang dia gunakan untuk jualan di kapal itu. Karena kebetulan yang berjualan di atas kapal itu tidak hanya si bapak tadi tetapi masih ada sekitar 3 penjual dengan barang dagangan yang hampir sama. Mulai dari mie instan yang diseduh, kopi, jahe, kopi susu, nasi bungkus, air mineral, soft drink, gorengan dan lainnya.

Ternyata bapak tersebut termasuk ABK di kapal itu. Sehingga dia tidak menyewa tempat, dari barang-barang yang terjual nantinya akan dibagi hasil dengan si pemilik kapal. Si bapak itu termasuk tipe orang yang ketika ditanya sedikit dia akan bercerita banyak hal. Dan saya suka itu karena menghemat energi dan ide apa yang akan ditanyakan heheh,

Dua penjual lainnya juga termasuk ABK. Dalam kapal tersebut ada sistem rolling (kerja secara bergantian), ada ABK yang bekerja di bawah yaitu di bagian yang mengurusi kendaraan yang masuk mulai dari kendaraan pribadi, bus, maupun truk. Kemudian ABK yang seperti bapak tersebut yaitu bagian berjualan. Nantinya uang hasil penjualan dan hasil yang diperoleh di bawah akan ikumpulkan setelah terkumpul dan dikurangi jumlah yang disetorkan ke kapal, sisanya dibagi rata untuk mereka. Menurut bapak itu hasil yang mereka peroleh itu cukup lumayan untuk makan sehari-hari. Sedangkan gajinya tiap bulan bisa ditabung untuk biaya sekolah anak dan juga biaya pensiun nantinya.

Ya, mereka tidak akan selamanya di laut. Usia akan semakin bertambah, dan itu akan berpengaruh terhadap ketahanan tubuh. Terlebih di laut, dalam penuturan bapak tersebut udara laut tidak baik untuk kesehatan. “Liat aja besi mb, kalau kehujanan berkali-kali dia akan berkarat. Nah kalau di laut baru bentar udah berkarat. Itu kena besi, gimana kalau kena manusia,”, jelasnya. Jadinya untuk mengantisipasi agar tidak gampang sakit istilah agar kondisi tubuh terjaga bapak itu dan teman-temannya mengantisipasinya dengan banyak makan.

Ketika saya tanyakan soal apakah pihak kapal memberikan pelayanan kesehatan, jawabannya cukup melegakan, karena para ABK memperoleh pelayanan kesehatan. “Tiap sebulan sekali kita di cek kesehatannya. Keluarga ABK juga diperhatikan, kalau ada yang sakit juga diberikan santunan,”urainya.

Terkait makanan maupun minuman, semuanya dikontrol pihak kapal. Mulai dari belanja kemudian tanggal kadaluarsa makanan. Mereka tinggal menjualnya. “Makanan di sini semuanya terkontrol mb. Nasi bungkus ini kalau jam 10 malem belum terjual semua, sisanya kami simpan untuk tidak dijual. Karena takut kalau udah basi. Jadi batas maksimal nasi bungkus ini hanya sampai jam 10 malam. Kalau gorengan, waktu baru disetor pas pagi nya kita jualnya Rp 2000,00/gorengan tapi kalau udah sore gini kami jualnya jadi Rp 1000,00.”ujarnya.

Banyak hal sebenarnya yang kami bicarakan bahkan menyangkut keluarganya. Ia telah bercerai dengan istrinya tetapi apa sebabnya sepertinya tidak tidak perlu dibahas di sini, menurutnya itulah resiko seorang ABK yang jarang di darat dan lebih sering di laut, kemudian dia memiliki anak satu, perempuan. Ketika dia melaut anaknya tinggal bersama neneknya, dan setiap dia pulang anaknya juga selalu datang. Karena anaknya tahu kapan dia pulang. “Semuanya saat ini ya buat anak mb, gaji saya buat sekolah dia.”, katanya.

Waktu ngobrol itu, kita juga sempat membahas tentang anak koin. Anak koin? yap, anak-anak dan remaja yang sering kita lihat di pelabuhan, yang sering ngambil duit receh yang kita lempar ke laut. Kalau sekarang mereka minta uang misanya Rp 10.000,00 terus mereka terjun ke laut dengan berbagai gaya, salah satunya salto heheh, Dan ternyata dulunya bapak itu juga seorang anak koin🙂

Waktu itu kebetulan banyak penumpang yang ke atas kapal tepatnya di luar bukan di bagian dalam. Dalam penuturan bapak itu, sebenarnya apa yang dilakukan penumpang itu bisa membahayakan dirinya sendiri, karena mereka tidak akan tahu apa yang terjadi di tengah laut nantinya. “Pernah ada kejadian, seorang penumpang jatuh ke laut karena kebetulan ombak deras sehingga kapal sedikit tergoncang. Tetapi terselamatkan oleh ABK kapal.”katanya.

Terkait pelampung, di kapal itu ada banyak pelampung yang disediakan sehingga penumpang tidak perlu khawatir. Terkait kebersihan kapal yang awalnya saya kira dibersihkan oleh para ABK, ternyata ada petugas lain yang membersihkan heheh,

Akhirnya kapal akhirnya mendarat eh menepi karena udah sampai di Banyuwangi, di akhir obrolan, bapak itu mengatakan kepada saya, satu hal yang membuat saya sedikit melambung hahahahah, “Saya seneng ngobrol sama mb. Mb ramah, diajak ngobrol enak, mb mesti punya banyak temen ya?”, ketika saya tanyakan kenapa enak ngobrol sama saya, bapak itu mengatakan, “Saya paham omongan mb, dan mb juga paham omongan saya. Kan orang yang enak diajak ngobrol sama tidak itu kan kelihatan mb” (dan saya sepakat soal ini hehehe,) -> anda boleh sepakat maupun tidak dengan pendapat bapak tersebut terhadap diri saiya hahah,

Satu hal lagi, bapak tersebut sempet mengatakan kepada saya, dia ingin anaknya sukses dan dia juga dapat membiayai sekolah anaknya nanti. Emm, semoga pak! saya doakan! sukses dan sehat terus agar tetap bersama dan membahagiakan anaknya.

*sepertinya cukup sekian cerita saya, karena ada beberapa yang saya lupa heheh,

*satu lagi, tidak saya sebutkan nama, karena saya lupa tidak bertanya nama bapak itu, karena ketika ngobrol, bapak itu sambil melayani pembeli🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: