Ceritaku #2 – Mie Instan


Sebelumnya di ceritaku #1, aku menceritakan tentang kekonyolanku mengenai roti tawar -_-. Nah, sekarang aku akan cerita atau lebih tepat mengutarakan kegalauanku -_-. Yaah, mungkin dibaca aja kali ya, ini galau atau konyol atau apalah namanya. Cerita mengenai mie instan 😀

Tau mie instankanya? Tauuuuu!!!! (gaya anak SD kalau ditanya :p). Mie instan adalah mie kering yang direbus kemudian kalau mie sudah matang lalu dicampurkan dengan bumbu yang tersedia. Macam mie instan ada emm ada emm ada berapa si, soalnya banyak e. Tapi kalau macam itu bukannya cuma mie rebus dan goreng ya? #eh iya ding ya -_-. Yang banyak itu merek nya alias nama produknyaaa. Betul betul betul (gaya upin ipin :p)

Terus maksudnya mau cerita apaan ini. Kok selalu muter-muter gak jelas gini. Kalau cuma jenis mie, semua orang juga tauk kale (gaya alay).

Iye-iye, saabaaar….

Intinya si begini,

Aku suka sekali makan mie. Mie apa aja. Mie ayam, mie instan ataupun mie jawa  bahkan mie ramen. Pokoknya mie😀. apalagi mie instan, itu adalah stok makanan di kost. Bangun tengah malam kalau kelaperan selalu jadi andalan hehe, Tapi tetep aja badan kurus -_-. Sudah-sudah curcolnya lain kali ye.

Setelah bertahun-tahun mulai dari jaman masih sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) sudah dikenalkan dengan namanya mie instan. Jaman dulu cuma ada indomie dan supermie (kali ini sebut merek :p) terus disusul sarimie yang pada akhirnya ketiganya berada dalam satu bendera Indofood😀. Kalau tidak ada lauk atau sayur, kita makannya nasi sama mie. Begitu juga waktu kost pas SMP (umur segitu udah ngekost) kalau gak ada lauk, sering juga dimasakin mie ama ibuk kost. Lebih-lebih kuliah, jadi menu wajib, apalagi kalau uang bulanan dah mepet hahahahah,

Masalahnya dimana? Masalah muncul ketika banyak pihak terutama dari kesehatan mengingatkan akan bahaya mengkonsumsi mie instan secara berlebihan. Timbul berbagai penyakit mulai yang ringan seperti maagh hingga penyakit yang lebih berat. Sehingga ada sebuah ‘kampanye’ (istilahku sendiri -_-) yang menyarankan masyarakat untuk menghindari atau kalau bisa mengurangi mie instan.

Memang gak salah, tapi sebagai seorang pencinta mie, itu benar-benar sangat menyakitkan dan memilukan (hadeeeh, lebay). Tapi kalau menurutku, mengurangi mie instan bahkan menghindarinya sepertinya hal yang agak sulit. Misalnya ni, kayak terjadi bencana, apapun itu, mie instan selalu menjadi andalan, benar begitu? Selain tahan lama, juga mudah didistribusikan, tidak takut basi maupun jamuran kecuali jika sudah melewati batas kadaluwarsa. Itu tetap tidak boleh dimakan. Kalau mau dihentikan, makanan apa yang akan menggantikan mie instan? Roti? Bisa saja si tapi tingkat ‘kekenyangan’nya tidak seperti mie. Dan tahan berapa lama si umur makanan sejenis roti tawar itu? Atau biscuit? Lagi-lagi tingkat kekenyangan yang tidak seberapa. Terlebih roti maupun biscuit itu makanan yang manis. Makanan manis itu mengandung zat yang namanya serotonin (set dah, bahasa ilmiah cuy :p). Intinya serotonin membuat nyaman dan selalu bikin pengin nambah lagi biasanya di makanan yang manis-manis. Makanya kalau makan yang manis-manis selalu susah berhentikan?🙂

Belum lagi, mie termasuk amkanan yang murah meriah. Paling enggak ya Rp 1500,00 sebungkus. Nasi sayur minimal Rp 3000,00 Lha kalau cuma tinggal punya uang Rp 2000,00 daripada lapar mesti larinya ke mis instan lagi tho?

Jadi bagaimanaa soal mie instan? Yaah, gimana ya, mungkin alangkah lebih baik jika disosialisasikan bagaimana cara mengurangi efek kurang baik dari mie tersebut. Misalnya merebusnya dua kali, atau membuang air rebusan, atau memasaknya menggunakan sayuran. Kemudian ditambah informasi lagi seberapa efektifnya cara memasak tersebut untuk mengurangi efek buruk dari mie instan? (kek pertanyaan reporter -_-)

Yang kutakutkan adalah jika efek dari mie tersebut jadi bikin kayak rokok yang diharamkan. Hadeeeh, sepertinya kalau sampai ada fatwa haram mie instan, saya adalah orang yang akan melanggarnya huhuhuhu, Ya gimana, kalau emang diketahui membawa efek buruk bagi tubuh kenapa diijinkan diproduksi? Dengan kata lain yang salah bukan yang mengkonsusmsi dong, wong sebelumnya tidak tahu. Jadi salah siapa? Salah guwe? Salah temen-temen guwe? (adegan sebuah film :D)

Sudahlah, sepertinya kali ini saya akan memasak mie lagi. Emm pakai sawi biar lebih mengenyangkan heheheheh,

12 Oktober 2011

03.00

Ruang masak (kamar kost)😀

###

6 responses

  1. huahahahahhahahahhaha… kwoooook…kwooooook…kwooooook…. ;DDD

    1. opo iki maksud e😀

  2. sekarang mie instan udah mahal 2000 aja yang rebus –“

    1. iya si, kalau sekarang😀

  3. Right here is the right webpage for everyone who would like to find
    out about this topic. You understand a whole lot its almost tough to argue with
    you (not that I personally will need to…HaHa).

    You definitely put a brand new spin on a topic that’s been discussed for decades.

    Wonderful stuff, just great!

    1. thank you for stop by, read and leave a comment😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: