Asal Mula Istilah Gombal Mukiyo


Di masa saya kecil hingga sekarang, sering sekali mendengar istilah gombal mukiyo. Entah apakah ini juga berlaku di daerah lain khususnya Jawa atau tidak. Tetapi setidaknya saya ingin berbagi cerita tentang istilah yang sering saya dengar ini. Setidaknya asal mula cerita ini tidak hanya berhenti di saya saja heheh,

Gombal mukiyo sering dipakai untuk berkomentar jika ada seseorang yang memiliki baju yang kumal, serbet atau handuk yang warnanya sudah pudar.

Sejak kecil saya sudah penasaran dengan istilah itu tapi belum ada keberanian untuk bertanya. Nyaris tak terlalu ambil pusing  dan menganggap hal tersebut hal yang biasa tidak ada yang istimewa. Hingga di suatu ketika, ketika saya pulang kampung dan berkumpul dengan keluarga inti (Bapak, Ibuk dan Kakak-kakak saya). Kita ngobrol-ngobrol santai, entah mengapa obrolan sampai kepada gombal mukiyo.

Bertanyalah saya ke bapak, secara beliau kan lahir sejak tahun 40an (sebelum Indonesia merdeka :D). Dalam bahasa Jawa saya bertanya seperti ini, “Ngopo ta Pak, kok ana istilah gombal mukiyo? Kuwi mula bukane kepiye? Dalam bahasa Indonesia kira-kira berarti, “Mengapa to Pak, kok ada istilah gombal mukiyo? Itu asal mulanya bagaimana?”

Menurut laki-laki yang giginya sudah tidak bisa dikatakan genap alias sudah ompong ini🙂 istilah gombal mukiyo itu ada sejak tahun 70an. Dalam penuturannya, sekitar tahun 1970 ada seorang laki-laki yang bernama Mukiyo. Mukiyo ini berprofesi sebagai penghitung waktu angkutan umum seperti bus dan angkot (istilahnya di kalangan sopir dan kenek adalah timer). Si Mukiyo ini hobinya atau memiliki sebuah kebiasaan membawa semacam kain atau mungkin handuk kalau sekarang. Si kain ini dibawa kemana-mana. Digunakan untuk mengusap keringat, mengelap mulut kalau habis makan atau mengelap tangan yang basah. Karena selalu dipakai dan tidak pernah dicuci, kain tersebut warnanya berubah menjadi bulug atau kumal. Bahkan baunya bisa membuat orang menggunakan masker atau penutup hidung hingga berlapis-lapis🙂

Nah, sejak saat itu istilah gombal mukiyo sering digunakan. Hingga Mukiyo meninggal, istilah tersebut masih sering terdengar hingga sekarang. Entah untuk berkomentar tentang baju seseorang yang sudah kumal, serbet atau handuk yang sudah kumal terkadang digunakan seseorang sebagai celetukan-celetukan ringan. Ada juga yang digunakan untuk menanggapi gombalan seseorang heheh,

Apakah cerita mengenai gombal mukiyo ini benar? Apakah ada versi lainnya? entahlah, mungkin kalau ada versi lain, anda bisa menceritakan kepada saya. Dengan senang hati akan mendengarkannya.🙂

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: