Taare Zameen Par : Setiap Anak itu Spesial (part 2)


Sebelumnya telah dituliskan tentang gambaran mengenai film ‘Taare Zameen Par : Every Child is Special’. Yaah, mungkin ada beberapa yang terlewat atau tidak diceritakan hehe,. Tetapi ada beberapa hal yang menjadi catatan dalam pikiran saya ketika menonton film tersebut.

Pertama, menonton film tersebut membawa ingatan saya sewaktu masih SD juga. Saat itu saya memiliki teman sekelas, laki-laki usianya jauh di atas saya karena ia sering tinggal kelas. Hampir sama seperti Ishaan, teman saya tersebut kesulitan membaca dan juga menulis. Tulisannya susah untuk dibaca. Ia juga agak kesulitan untuk memahami apa yang dimaksud soal ulangan. Meskipun pada saat sekelas dengan saya, dia akhirnya bisa lulus. Dan menurut ibu saya ia juga bisa menyelesaiikan sekolah hingga SMP. Tetapi saya lalu befikir, upaya dia untuk lulus membutuhkan waktu bertahun-tahun. Ia selalu memiliki teman sekelas yang berbeda selama bertahun-tahun. Iya, saya langsung berfikir kemungkinan besar ia mengalami dyslexia. Dan hebatnya, guru-guru di sekolah saya saat itu tidak mengeluarkannya atau meminta orang tuanya untuk memindahnya ke sekolah lain. Tetapi tetap mengajarinya hingga ia bisa. Lepas dari apakah ketika ulangan ia mencontek atau diajari teman yang lain, saya kurang paham🙂. Tetapi setidaknya ia akhirnya bisa lulus SMP juga, entah saat ini ia dimana, terakhir yang saya tahu ia telah memiliki anak.

Kedua, tentang guru yang galak yang digambarkan dalam film tersebut. Saya kira hampir tiap sekolah ada guru yang galak. Sewaktu saya SD pun saya juga memiliki guru yang galak. Sama seperti Ishaan, saya pun pernah dipukul tetapi beruntung saya tidak dipukul menggunakan penggaris melainkan bambu kecil yang biasa dipakai guru untuk mengajari di papan tulis. Waktu itu hampir satu kelas kena pukul, bahkan teman saya yang juara kelas pun kena pukul. Entah saya lupa karena apa. Guru tersebut juga suka memberikan pertanyaan perkalian atau pembagian ketika waktu pulang sekolah. Yang berhasil menjawab bisa pulang terlebih dahulu. Waktu itu saya telah hafal perkali 1 hingga 100. Sehingga hal tersebut bukan hal sulit bagi saya *eeaa sombong*. Tetapi harapan tidak sesuai dengan kenyataan *tsaah*. Waktu itu pertanyaannya adalah 8 x 7. Dan saya pun menjawab 56. Tetapi apa yang terjadi, guru tersebut menyalahkan jawaban saya. Bukan hanya itu saya dikatai-katai ‘busuk’. Kemudian pertanyaan itu tetap tidak diganti, lalu teman saya yang lain menjawab dengan jawaban sama persis seperti saya dan oleh guru tersebut dibenarkan dan ia diperbolehkan pulang terlebih dahulu. Aiiih, hingga sekarang saya sebel, tapi mungkin bisa jadi saya salah jawab waktu itu. Aah sudahlahh, yang jelas guru yang saya maksud tersebut merupakan guru yang tidak banyak murid yang suka hingga sekarang. *maaf bu, setidaknya saya tidak menyebutkan nama anda *🙂

Ketiga, film tersebut menerapkan budaya patriarki yang masih terjadi di masyarakat. Tidak hanya di India di Indonesia pun masih banyak menerapkan hal tersebut. Bisa dilihat peran ayah dalam film tersebut, cenderung melimpahkan semua urusan rumah kepada istrinya termasuk kepada anak-anaknya. Ayah digambarkan kepala keluarga yang yang tidak terbantahkan kehendaknya (saat memutuskan Ishaan harus pindah ke asrama, ia sama sekali tidak melakukan pertimbangan dengan istrinya, tetapi langsung membuat keputusan). Ia cenderung melimpahkan tanggung jawab perhatian anak-anak dilakukan istrinya (saat mengatakan kepada Nikumbh bahwa istrinya telah mencari informasi mengenai dyslexia melalui internet tetapi dia sendiri tidak melakukannya, bahkan ia menyebutkan bahwa itu merupakan bentuk kepedulian terhadap anaknya). Istri diperlihatkan sebagai sosok penurut dan lemah (tidak mampu mempengaruhi keputusan suaminya saat memutuskan Ishaan harus pindah ke asrama), ia juga selalu diperlihatkan dengan selalu memakai daster kumal dan kedodoran. Selain itu ia juga seing berada di dapur untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Sementara suaminya digambarkan berpakaian rapi karena bekerja ke kantor kalaupun di rumah ia hanya membaca koran atau menonton televisi. Tidak sekalipun diperlihatkan ia membantu pekerjaan istrinya.

Keempat, film tersebut juga merepresentasikan bahwa pendidikan belum mencapai semua kelas sosial di India. Begitu juga di Indonesia🙂. Dalam film tersebut diperlihatkan tidak semua anak dapat sekolah, masih banyak anak-anak yang harus bekerja membantu orang tuanya.

Kelima, dalam film tersebut juga merepresentasikan bahwa stereotype bahwa anak-anak yang berbeda atau anak-anak yang sekolah di sekolah berkebutuhan khusus atau kalau di Indonesia SLB (Sekolah Luar Biasa) adalah anak-anak yang tidak memiliki masa depan. Tidak akan mampu bersaing (seperti saat ayah Ishaan berdebat dengan Nikumbh mengenai Ishaan yang pandai melukis tetapi nantinya mau jadi apa Ishaan, menurutnya Ishaan tidak akan mampu bersaing) ataau saat rekan-rekkan Nikumbh sesama guru yang juga meremehkan murid-murid Nikumbh yang berada di sekolah khusus. Menurutnya anak-anak tersebut tidak memiliki masa depan. Dalam film tersebut Nikumbh diceritakan juga menjadi guru anak-anak yang berbeda, anak-anak yang memiliki kekurangan. Di Indonesia stereotype seperti itu juga masih banyak, bahwa orang-orang cacat akan sulit bersaing dengan orang-rang yang dinilai normal. Padahal tidak sedikit anak-anak, orang-orang yang memiliki kekurangan tetapi justru berprestasi.

Keenam, dalam film ini benar-benar menempatkan Nikumbh sebagai sosok guru yang sempurna. Dimana ia disukai murid-muridnya hingga gaya rambutnya pun ditiru murid-muridnya. Satu hal yang menjadi perhaian saya, setiap Nikumbh berbicara dengan murid-muridnya terutama Ishaan, ia selalu berusaha sejajar dengan Ishaan. Ia duduk atau jongkok di depan ishan. Hal tersebut yang tidak dilakukan guru-guru lain. Bisa jadi juga hampir tidak banyak guru-guru yang melakukan hal tersebbut terhadap murid-muridnya terutama yang masih anak-anak. Dalam psikologi, cara tersebut merupakan salah satu cara efektif agar anak-anak mendengarkan apa yang kita sampaikan. Cara tersebut menggambarkan bahwa orang tua atau guru sejajar dengan mereka bukan lebih tinggi atau lebih berkuasa dibandingkan mereka.

Ketujuh, tidak sedikit orang tua yang tidak terlalu memperdulikan anak-anaknya. Bagi mereka mereka mencari uang sudah termasuk bentuk kepedulian. Ini pulalah yang digambarkan dalam film tersebut. Ayah Ishaan cenderung bukan sosok yang mampu memberikan kasih sayang seperti pelukan atau memberikan pujian kepada anak-anaknya. Ia cenderung sering memarahi jika anaknya gagal. Dan yang paling saya suka saat ia diingatkan Nikumbh mengenai sikap peduli orang tua terhaadap anak-anaknya. Bagi Ayahnya Ishaan, mencari informasi mengenai dyslexia di internet sudah merupakan bentuk kepedulian, lalu Nikumbh menjawab bahwa, sikap peduli orang tua dapat mengobati luka, hal itulah yang dibutuhkan anak-anak. Pelukan, ciuman kasih sayang unttuk memperlihatkan bahwasanya orang tuanya peduli. Perkataan bahwa mereka sayang, jika takut mereka bisa datang ke orang tuanya, jika gagal orang tua masih bersama mereka.

Kedelapan, ada satu nasihat Nikumbh yang diberikan kepada ayahnya Ishaan mengenai Kepulauan Solomon. Nikumbh menjelaskan di Kepulauan Solomon ketika penduduknya ingin ikut ambil bagian dalam pengelolaan hutan, mereka tidak memotong pohon-pohon. Mereka hanya berkumpul di sekitar pohon dan berteriak dengan kasar, sambil mengutuknya. Dalam beberapa hari pohon itu layu dan mati. Nasihat tersebut bertujuan untuk mengingatkan bahwa pada dasarnya caci maki, kemarahan yang dilakukan atau ditujukan kepada anak-anak pada akhirnya hanya akan membuat anak-anak semakin terpuruk bukan semakin berkembang. Anak-anak akan berhenti berusaha karena apa yang dilakukannya selalu dinilai salah.

Jadi film ini saya rekomendasikan untuk dilihat, jika sudah pernah melihat mungkin bisa juga berbagi cerita😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: