Menggelinjang di Ruang Publik


Di depan saya arah jam 10 saya melihat pasangan tengah berciuman. Ini bukan adegan sebuah film ataupun Film Televisi (FTV) salah satu acara di sebuah stasiun televisi swasta yang terkadang saya rindukan untuk menontonnya. Ini bukan akting tapi adegan ciuman beneran.

Yaah, mungkin saya berlebihan atau bisa juga dinilai sok bermoral? Aah, entahlah. Atau saya iri dengan kemesraan dua orang itu? Bisa juga kali ya *berfikir*

Jadi dimana lokasi kemesraan dua orang tadi itu? Oh iya, cerita saya langsung menuju ke titik utama ‘ciuman’ tanpa mengawali cerita diawali dari mana mulanya saya bisa menikmati sekilas adegan sedikit ‘menggelinjang’ tersebut *krik*

Seperti biasa, sebagai seorang penggangguran yang hanya mengandalkan pemasukan dari orang tua dan terkadang ada side job yang masuk di email, sudah jelas saya adalah seorang yang paling suka menikmati segala sesuatu yang diberikan secara GRATIS!!

Ya benar, gratis. Nah, di sore yang cukup lumayan terik saya pergi ke sebuah minimarket yang cukup menggurita di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Aah, tak perlu ditanya apa nama minimarket yang seragam para karyawannya berwarna biru putih ini, anda cukup cerdas untuk menebaknya bukan?

Hanya bermodalkan membeli sebotol kecil air mineral, saya pun meminta voucher hotspot gratis di kasir. Nah, kasirnya kebetulan mbak-mbak yang sudah hafal dengan sosok saya (ketahuan sering ngenet -__-) setiap jatah mbak ini yang jaga, saya hampir selalu memperoleh voucher ganda. Untuk diketahui meskipun gratis tetapi internet di minimarket tersebut diberi jatah waktu satu jam. Otomatis jika saya memperoleh dua voucher, jika beruntung saya bisa menikmati akses internet lebih lama yaitu dua jam. Padahal saya hanya membeli air mineral yang hanya mengeluarkan uang di bawah dua ribu rupiah. Menyenangkan bukan? Jika di warung internet bisa lebih dari itu, sungguh menyenangkan bagi saya yang tidak memiliki modem ini🙂

Saya mengambil tempat duduk menghadap ke arah televisi alias tv. Jadi, saya pun bisa sambil nonton tv dong, secara saya adalah anak kost yang tidak memiliki televisi. Sungguh seperti pepatah, sambil menyelam, minum air. Emm kalau ini, mungkin jadi sambil ngenet gratis, nonton tipi *maksa*

Okey, pertama saya mulai membuka email. Kali aja ada side job masuk, kadang-kadang saya dapat job untuk nulis artikel. Lumayanlah hasilnya. Buka-buka email ternyata tidak ada job masuk. Selanjutnya saya membuka blog tercinta saya ini *eeaa* Kemudian upload tulisan lalu buka-buka yang lain seperti jejaring sosial facebook dan twitter. Serta tak lupa membuka blog kegiatan diskusi saya dan teman-teman. Lalu coba cari artikel-artikel dan lainnya.

Sewaktu saya lagi enak-enak searching, browsing dan pasang taring *eh ada sepasang pemuda dan pemudi datang. Cekikak-cekikik sambil bawa makanan banyak *duuh, ngiler jadinya*. Awalnya saya tidak terlalu ambil pusing karena sibuk melakukan download beberapa artikel serta tak lupa membaca lanjutan komik Naruto online *eeaa.

Tetapi karena kedua anak tadi ambil tempat duduk tepat di seberang saya, sedikit serong sekitar arah jam 10 *bayangkan!* Jadi otomatis saya bisa melihat apa yang tengah mereka lakukan. Makan, suap-suapan sambil nonton televisi yang untungnya dinyalakan penjual kebab di depan minimarket tersebut.

Adegan suap-suapan saya hitung wajar. Tetapi lama-lama kok kepala si perempun ‘ndusel-ndusel’ aah saya bingung mengungkapkan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pokoknya kepala si perempuan diarahkan ke dada si laki-laki. Mulai dari situ saya agak risih. Tidak hanya berhenti di situ saja, si perempuan dekat-dekatin keningnya di mulut laki-laki. Setelah itu si laki-laki dekatin mulutnya di pipi si permpuan, lalu di kepala. Terus si perempuan mencium si laki-laki dan seterusnya. Sempat terdengar gurauan mereka yang tidak asing lagi biasanya ada di tipi yaitu iklan suatu produk, “Ehm, bau acem.” *Rrrrr*

Heuuuh, saya pikir di belakang saya tidak ada orang. Ternyata ada banyak orang. Tepat di belakang saya ada dua orang lalu ada si bapak penjual kebab kemudian mas-mas karyawan minimarket tersebut. Agak malu-malu dan sungkan aku menoleh ke belakang. Kebetulan si bapak penjual kebab juga melihat ke arah saya. Sepertinya si bapak risih juga dengan tingkah polah dua anak manusia yang berani ‘menggelinjang’ di tempat umum.

Aah, mungkin saya terlalu berlebihan dengan ungkapan ‘menggelinjang’ dan agak heboh dengan kelakuan dua anak tadi. Atau bisa juga iri karena saya tidak seberani mereka *krik*. Tapi, intinya si, saya risih dan jadi malu sendiri. Padahal bukan saya ya yang melakukan. Aturan kan saya tidak ambil pusing dan ikut campur. Tapi kan saya juga tidak berusaha ikut campur dengan negur atau ngusir mereka.

Yah, sekarang saya cuma ingin sedikit berbagi kalau saya agak risih atau (iri) dengan adegan mesra pasangan anak manusia berbeda jenis kelamin tersebut. Dan sepertinya yang iri (risih) tidak hanya saya kok (pembenaran) hehehe,

Aah, sudahlah. Yang jelas adanya adegan tadi tidak menghentikan kegiatan saya untuk menyelesaikan jatah voucher internet saya. Sayang dong kalau tidak dimanfaatkan dengan baik. Jadi sekiaan….

2 responses

  1. […] Arti kata Menggelinjang By diankp on February 26, 2012 Ada seorang teman, melalui twitter bertanya tentang kata ‘menggelinjang’ yang saya pakai dalam artikel saya yang berjudul ‘Menggelinjang di Ruang Publik’ […]

  2. […] dari sejam. Belum lagi bonus lihat orang pacaran tapi berantem atau kalau beruntung dapet yang lagi ciuman *eh sudah mulai gak fokus ni […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: