Cerita tentang Langit


Seperti biasa, usai makan malam, aku mencuci piring yang tadi kupakai. Selanjutnya aku bingung akkan melakukan apa. Di kamar tak ada televisi, komputer apalagi. Harta yang aku punya adalah mp4 biru yang kubeli dengan sisa uang beasiswaku. Aku enggan bergabung dengan teman-teman satu kost. Terkadang mereka hanya membicarakan masalah orang lain. Buatku itu bukan masalahku. Kecuali orang yang lagi bermasalah mengajakku untuk ngobrol, aku pasti dengan senang hati untuk mendengarnya.

Tetapi kalau mendengarkan mereka membicarakan masalah orang lain dan sok memberikan saran padahal orang yang bersangkutan tidak bersama mereka. Itu sangat menjengkelkan. Seperti melihat orang yang menyarankan untuk membuang sampah di tempatnya tetapi ia sendiri membuang bungkus permen ke lantai.

“Eh, si Rofi itu lho selalu seperti itu. Kemana-mana minta anter tapi gak pernah mau isiin bensin. Kan yang ngajak dia, harusnya dia dong yang isiin bensin.”

Mulai terdengar keluhan si Mar, teman satu kost yang punya motor dan sering pergi bareng Rofi yang sedang ia bicarakan. Entah Rofi sedang kemana, tidak terdengar suara cemprengnya dari tadi siang. Mungkin di tempat pacarnya.

“Bener mbak, mosok tho kemarin itu dia minta dianterin ke *Progo padahal aku baru aja pulang. Sholat aja belum eh tahu-tahu dia nodong minta anter.”

Aah, mulai si Ari menimpali. Emm, gak bakalan selesai obrolan mereka ini. Semakin ditanggapi akan semakin banyak aib si Rofi dibuka. Aku memilih menjauh dan tidak bergabung dengan obrolan ‘berisik’ ini.

Jujur saja, aku sebenarnya ingin nonton televisi. Kebetulan ada film lama yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta. Tapi aku malas kalau nonton dimana mereka ada di sana. Bukannya aku tidak mau berteman dengan mereka. Tentu saja aku mau. Aku mau berteman dengan siapa saja. Tetapi aku berhak dong untuk memilih apa yang aku suka dan enggak.

Kebetulan semua tugas kuliah udah aku selesaikan tadi siang. Buku-buku yang aku punya hampir sudah selesai aku baca dan kebetulan aku lagi malas baca. Akhirnya kuputuskan untuk duduk-duduk di teras kost. Kost yang aku tempati memiliki halaman yang luas. Ada pohon mangga, rambutan dan jambu. Sehingga cukup sejuk jika siang begitu terik.

Lagi-lagi aku melakukan hobi lamaku. Sebuah kebiasaan yang sepertinya aku lakukan sejak masih Sekolah Menengah Pertama (SMP). Duduk di luar memandang langit luas. Mencari-cari bintang yang kupikir saat ini makin sedikit dibandingkan dahulu. Aah bisa jadi ini hanya perasaanku saja.

Bagiku langit itu ibarat perasaan dan pikiran seseorang, begitu lapang dan menenangkan. Ia akan tetap lapang meski cuaca sedang hujan, ia tetap lapang saat mendung, ia tetap lapang saat hujan dan petir menyambar. Ia juga tetap lapang saat pelangi datang. Langit tetap lapang apapun keadaannya.

Yah, saat sedang banyak pikiran aku selalu memandang langit dan seperti biasa ada celah ketenangan yang kuperoleh. Bukan aku tak percaya Tuhan, justru karena aku percaya Tuhan aku melakukannya. Bagiku langit yang Tuhan cipakan saja begitu lapang apapun keadaannya, bagaimana dengan Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta, pasti lebih Maha Lapang bukan?

Di saat aku dalam kesendirian langit selalu ada. Di saat aku senang langit selalu ada, di saat aku bimbang langit selalu ada. Melihat langit membuatku tahu dan paham bahwa apa yang kita rasakan saat ini tidak akan abadi. Akan selalu berubah. Langit tidak akan selalu mendung atau hujan. Pasti ada cuaca cerah, terik terkadang juga ada pelangi. Begitu juga perasaan dan pikiran. Ada masalah pasti ada jalan keluar. Melihat langit mengingatkan juga bahwa aku masih hidup dan memiliki harapan untuk melakukan banyak hal.

“Ngapain di sini, sendirian. Kayak orang ilang” Suara cempreng Rofi mengagetkanku. Entah kapan ia datang. Tapi mungkin belum lama. Buktinya motor cowoknya masih nyala belum dimatikan mesinnya.

Aaah. Gak pha-pha lagi cari angin seger” balasku sambil tersenyum. Aku pun berdiri dan masuk ke dalam. Melihat langit sambil mendengar suara cempreng manja itu sungguh terasa menganggu. Tenyata Casio yang melingkar di pergelangan tanganku menunjukkan angka 22.00. Aah, saatnya tidur, besok banyak hal yang harus aku lakukan. Tak mungkin aku akan duduk memandangi gelapnya langit malam. Karena esok langit akan membiru begitu pula aku yang akan terus menggapai asaku.

Yogyakarta, 27 Februari 2012

*Nama salah satu pusat perbelanjaan di Yogyakarta*

5 responses

  1. Apiiiiiiiiik *jempols*, filosofi langit nya bikin hidup lebih hidup!🙂 Tapi kurang panjang hehe..lanjutkan, dinda!😀

    1. wew!!! jd malu saya hahahah,
      terimaksih atas komentarnya tetap ditunggu kritikannya hahahah,😀

  2. Kiyyuuu..kiyyuuu..
    Trnyata ini kaka’ adek sama2 jago tulis menulis ya.??pantesan aja klop amat hehe.. Cip mba dian.. bgus..!! tapi setuja dg mba tiya mba dian..ayo dipanjangin..tmbh lagi konflik2nya n cerita ttg langit itu,, pasti cemakin ceru.. Thumbs up..!! ^^,

  3. wew!! ida hehe,
    saya berrguru dengan mbak di atas itu heheh,
    baiklaah akan sy coba bikin bersambung ya hihihi,😀

  4. […] Langit mencatat, yah langit yang selalu saya suka lihat, langitnya Tuhan Maha Pencipta Seisi Alam Semesta Raya ini… […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: