ceritaku #7 : Parno akibat Berita Kriminal


Saya adalah seorang perempuan yang tinggal jauh dari orangtua. Meskipun tidak terlalu jauh tapi saya bisa dikatakan merantau walaupun kota tempat perantauan saya adalah Daerah istimewa Yogyakarta. Daerah yang tidak membutuhkan waktu lama dari tempat tinggal saya sebuah kampung bagian dari wilayah Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur *gak sekalian kode pos nya ni :p*

Saya memang terbiasa jauh dari rumah. Sejak SMP saya memang telah terbiasa ‘numpang’ di tempat orang lain a.k.a KOST. Saya telah akrab dengan dunia anak kost sejak lulus Sekolah Dasar. Sejak saya belum akrab dengan Kondektur bus yang sering saya tumpangi hingga saya seringkali memperoleh diskon dari Bapak Kondektur tersebut  *gak penting*

Intinya saya terbiasa dengan lingkungan bus kota, terminal, pengamen jahil, pengamen ramah dan jahil. Ketika kuliah pun saya akrab dengan bus kota Sumber “encono yang sekarang emm dari dulu kali ya terkenal sering mengalami kecelakaan. Sebelum saya mengenal jasa travel saya sering menumpang bus tersebut dari Terminal Giwangan Jogja hingga Terminal Tirtonadi Solo. Dan Alhamdulillah bus yang saya tumpangi tersebut aman-aman saja🙂

Saat kuliah pun saya juga merasa aman-aman saja saat harus jalan kaki malam-malam sekedar ke warnet dan pulang larut malam dari warnet menuju tempat kost. Saya tidak merasa takut. Sejak kost lama hingga kost sekarang. Dan selalu akrab dengan salah satu atau dua operator warnetnya *gak penting lagi* :p

Hanya saja berita kriminal yang seing muncul membuat saya parno dan sedikit was-was ketika harus jalan dan pulang malam dari warnet ke kost atau saat harus pulang malam sendirian. Berita kriminal dimana ada penjambretan, perampokan dan penodongan, belum lagi terkait berita kecelakaan.

Yah, jika dihubungkan dengan Kuasa Tuhan, jelas segala sesuatu memang atas KuasaNya tetapi bukankah kita selalu mengharapkan tidak pernah mengalami suatu kejadian buruk apapun? Sementara ini memang tidak sampai membuat saya selalu membawa senjata di salam tas saya. Minimal yang saya lakukan adalah selalu membawa tas ransel kemanapun saya pergi.

Tidak peduli saya dikatakan sebagai perepuan yang tidak memandang mode, tomboy dan lainnya. bagi saya keamanan jauh lebih penting. Menurut saya risiko dari penggunaan tas ransel jauh lebih ringan dibandingkan tas perempuan yang mungkin harganya jauh lebih mahal dari tas saya. Tetapi setidaknya saya merasa aman dengan membawa tas ransel tersebut. jauh lebih aman karena lebih menempel erat dengan saya.

Bukan salah reporternya sebenarnya ketika memberitakan hal tersebut, karena tuga mereka adalah memperleh dan membuat berita. Tetapi tanpa ada reaksi dari pihak kepolisian yang menjanjikan keamanan dan kenyamanan bagi masayarakat maka berita tersebut tentu saja hanya menambah perasaan was-was dan takut bagi warganya. Saya membayangkan, seandainya pihak yang berwajib bersedia segera merespon memberikan keamanan dan menjaminnya. Maka adanya berita-berita tersebut tentu saja tidak akan menganggu psikologis seseorang.

Apalagi berita-berita kriminal selalu tersaji setiap hari. Belum lagi jika sedang ‘hangat-hangat’ nya suatu kasus kriminal maka kasus tersebut hampir selalu dibahas walau beritanya sama dengan isi berita sebelumnya.

Bagaimana jika yang mengkonsumsi berita kriminal adalah anak-anak? Anak-anak jauh lebih cepar merekam sebuah kasus. Contoh sederhana adalah saat ada sebuah berita mengenai terpotongnya penis seorang anak yang mengikuti sunat massal. Saat itu keponakan saya sedang menonton televisi. Usianya saat itu sekitar enam tahun. Hingga saat ini dengan usia hampir 9 tahun ia merasa ketakutan jika ditanya mengenai sunat. Dia bilang takut kalau nanti terpotong.

Yah, mungkin dinilai wajar saat anak-anak takut untuk disunat tetapi respon keponakan saya tersebut sudah jelas akibat menonton berita tersebut. Semoga saja semakin besar pada akhirnya ia akan menyadari kewajiban bagi seorang laki-laki untuk disunat😀

Saya pun sempat parno keluar malam akibat seorang teman di kost menceritakan saudaranya abis kena jambret di jalan dekat kost. Ditambah lagi pada suatu malam ketika saya di warnet di depan warnet ada seorang mbak-mbak menggunakan motor ia dijambret tepat di depan warnet tersebut, bahkan teriakan minta tolongnya terdengar hingga ke dalam bilik warnet. Yah, memang sih, mungkin si mbak tersebut telah diikuti dari jauh lalu apesnya dijambret di lokasi tersebut. Tapi jelas bukan hal tersebut membuat parno seseorang.

Entah sampai kapan impian saya mengenai keamanan dan kenyamanan bisa terlaksana. Meskipun tidak bisa dipungkiri Indonesia merupakan sebuah negara yang masih banyak memiliki tempat yang aman dan nyaman. Tetapi seharusnya ketika banyak kejadian kriminal tersebut pihak-pihak berwajib segera memberikan respon dengan memberikan keamanan yang benar-benar aman bukan dengan pungutan liar. Saya tidak terlalu paham dengan politik, intrik, tipu daya, dan lainnya. Sebagai seorang warga negara saya hanya menginginkan sebuah keamanan, kenyaman dimanapun saya berada. Sebuah keinginan yang wajar bukan?

Sekian dan terimakasih…

Yogyakarta, 2 Maret 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: