Mengintip Santri di Film Negeri 5 Menara


Sebagai sebuah film yang berasal dari novel laris pastinya memiliki daya tarik tersendiri. Para pembaca novel tersebut pasti memiliki ketertarikan untuk menontonnya. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk membandingkan antara cerita di novel dan film. Hanya saja memang sangat prematur jika harus membandingkan cerita di novel yang dituangkan ke dalam film.

Karena film hanya bagian kecil dari novel. Dan inilah yang terjadi pada film-film yang berangkat dari novel termasuk yang saya tangkap saat menonton film Negeri 5 Menara. Film yang berangkat dari sebuah novel dengan judul yang sama tersebut  hanya mengambil sedikit dari isi novel tersebut.

Meskipun hanya mengambil sedikit dari novel tetapi film tersebut mampu menggambarkan mantra man jadda wajada dengan lumayan baik. Man jadda wajada merupakan kunci atau inti sesungguhnya bagaimana isi cerita Negeri 5 Menara.

Film ini mengisahkan mengenai perjuangan para santri pondok dalam menyelesaikan pendidikannya dan menggapai impian mereka. Diawali dengan kisah seorang remaja bernama Alif Fikri (diperankan oleh Gazza Zubizaretta) dan kawannya yang bernamai Randai diperankankan oleh Sakurta Ginting a.k.a Kipli😀. Mereka berdua memiliki cita-cita untuk melanjutkan SMA di Bandung dan kuliah di ITB.

Sayangnya harapan tinggallah harapan semata bagi Alif. Pasalnya Amaknya diperankan dengan apik oleh Lulu Tobing ternyata telah memiliki bayangan agar anak sulungnya tersebut melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren di Jawa Timur. Ternyata keinginan Amaknya tersebut disetujui oleh Ayahnya Alif diperankan juga dengan baik oleh David Chalik.

Alif tidak setuju dengan usul kedua orangtuanya. Karena keinginannya bukan sekolah di pondok. Namun dengan nasihat ayahnya, akhirnya meskipun dengan berat hati Alif menyetujui rencana tersebut. Akhirnya Alif diantarkan Ayahnya ke Pondok Madani di Ponorogo, Jawa Timur.

Ternyata sesampai di pondok tersebut ia tidak bisa langsung diterima tetapi harus menjalani test masuk terlebih dahulu. Saat mengerjakan test, awalnya Alif mengerjakan dengan setengah-setengah bahkan membiarkan jawaban yang diambil merupakan jawaban yang salah saat mengisi jawaban.

Namun ia akhirnya tidak tega dengan Ayahnya kemudian ia mengerjakan soal dengan sungguh-sungguh. Dan akhirnya ia lolos test. Kemudian saat hari pertama di pondok ia berkenalan dengan teman-teman baru. Dimana lima diantara teman-temannya tersebut menjadi sahabat baik dalam suka dan duka selama ia di pondok.

Kelima anak tersebut yaitu Baso (Billy Sandy), Said (Ernest Samudra), Atang (Rizki Ramdani), Raja (Jiofani Lubis) dan Dulmajid (Aris Putra). Mereka kompak dalam segala hal termasuk saat dihukum senior mereka yang dijuluki dengan ‘Mike Tyson’ karena ketegasan dan kedisiplinan yang sering diberikan. Keenam anak tersebut memiliki kebiasaan berkumpul di bawah menara pondok, hingga salah satu eman mereka di pondok memanggil mereka dengan sebutan Sahibul Menara atau pemilik menara.

Hanya saja dalam pandangan saya, film tersebut memang hanya dititik beratkan pada kebimbangan Alif saat berada di pondok. Kemudian bagaimana adaptasi kehidupan di pondok tidak terlalu digambarkan, bagaimana ia harus belajar bahasa Arab, bagaimana anak-anak tersebut belajar menghadapi ujian, justru lebih kepada perjuangan anak-anak tersebut membantu Baso belajar pidato Bahasa Inggris, serta perjuangan anak-anak tersebut menampilkan pentas seni, sebuah ajang yang biasanya hanya diikuti oleh santri kelas 3 dan 4. Tetapi mereka sebagai santri kelas 2 diperbolehkan mengikutinya.

Bagaimana beratnya belajar di pondok justru tidak digambarkan. Yah, bisa jadi karena berbagai pertimbangan akhirnya bagian-bagian dalam film itulah yang akhirnya ditampilkan.

Dalam film tersebut juga diselipkan beberapa kritik sosial. Seperti saat Pimpinan Pondok Madani yaitu Kiai Rais yang diperankan Ikang Fawzi didatangi Alif dkk. Mereka menyatakan keberatan karena listrik di pondok tersebut seringkali mati karena generatornya yang sudah usang.

Nah, Kyai Rais mengatakan yang pada intinya pada saat mengatakan keberatan atas suatu hal kemudian menyatakan ada permasalahan maka pihak yang protes tersebut juga harus memberikan solusi atas permasalahan tersenut. Sehingga terdapat jalan keluar. Menurut saya itu merupakan sebuah kritik kepada siapa saja di negara ini yang seringkali menyatakan keberatan atau melakukan protes tetapi tidak membantu memberikan solusi.

Contoh lain, saat diceritakan ada seorang pejabat, karena memakai baju tentara saya anggap ia adalah pimpinan tertinggi militer. Ia mendatangi Kyai Rais dan membujuknya agar dapat menerima keponakan atau anaknya (saya lupa hehe,) agar diterima di pondok tersebut. Kyai Rais lantas bertanya apakah anak tersbut sudah mengikuti test, ternyata sudah tetapi tidak lolos. Kyai Rais pun menegaskan bahwa sudah benar bahwa anak tersebut tidak diterima karena saat test ppun ia sudah tidak lolos. Nah, di negara ini kira-kira masih ada gak ya, sekolah yang menerima siswa karena desakan seorang pejabat atau iming-iming tertentu? Entahlah🙂

Kritik lain lagi saat Alif bersikeras akan berhenti belajar dari pondok untuk melanjutkan cita-citanya sekolah di SMA dan melanjutkan ke ITB. Meskipun tanpa restu ibunya, baginya yang terpenting adalah man jadda wajada (siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil). Dan ia pun kemudian dikritik salah satu kawannya di Sahibul Menara, bahwasanya jangan menyalahartikan man jadda wajada. Eem, bisa dipahami karena tak jarang seseorang memotong dan menggunakan ayat-ayat tertentu untuk membenarkan tindakannya. Sangat menyentil😀

Beruntung para pemain debutan khususnya yang memerankan keenam remaja tersebut mampu bermain dengan baik. Saya sendiri paling suka dengan akting yang memerankan Baso. Sangat natural, menarik dan memahami perannya dengan baik. Jika merindukan aktor dan aktris lama seperti Lulu Tobing, David Chalik, Inez Tagor serta Ikang Fawzi bisa dinikmati dalam film tersebut. Film tersebut semakin menarik saat indahnya pemandangan Danau Maninjau, Sumatera Barat diperlihatkan di awal-awal film.

Tetap ada kelebihan dan kekurangan hanya saja film ini tetapi tentu lebih baik dan menjadi pilihan bagi tontonan keluarga. Menjadi alternatif film berkualitas dibandingkan film-film hantu yang seringkali lebih menggambarkan adegan kekerasan maupun adegan seks. Bukankah lebih baik banyak film-film yang diadaptasi dari novel dan memberikan pesan yang baik dibandingkan film-film hantu?🙂

Jika apa yang saya gambarkan ini belum mampu memberikan bayangan, silakan tonton film tersebut. Karena baru mulai tayang pada 1 Maret 2012 lalu maka saat ini pun pasti masih ditayangkan di bioskop kesayangan anda *kayak ngiklanin ni* heheh, Tetapi kalau saya ditanya, saya lebih suka membaca novelnya😀

*gambar diambil di republika online*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: