Telepon yang Mengaburkan….


Awas!! Telepon Penipuan!

Menjelang akhir tahun 2012 lalu saya memutuskan untuk pulang ke rumah a.k.a mudik. Banyak alasan kenapa akhirnya saya memutuskan pulang. Salah satunya karena sudah lama tidak pulang *eeaa *minta dikeplak😀. Tetapi kebetulan ibu saya sedang ke Jogja dan menarik saya untuk pulang😀

Nah, saat di rumah inilah ada satu kejadian yang membuat saya semacam geregetan *kek lagu Sherina*🙂 Ini berkaitan dengan telepon iseng yang (mungkin) menuju ke arah penipuan. Telepon itu ditujukan ke telepon rumah. Kebetulan masih liburan sekolah jadi ibu, keponakan saya juga ada di rumah. Saat itu seperti biasa ibu di dapur, memasak dan lainnya, keponakan saya nongkrong mantengin kartun di televisi, kedua kakak saya kerja, sedangkan bapak pergi ke bank untuk mengambil uang pensiun. Sementara saya sendiri sedang tepar a.k.a sakit jadi setelah sarapan dan minum obat saya tertidur di kamar.

Menjelang siang tetiba telepon rumah yang jarang berdering itu mengeluarkan suara nyaring. Keponakan saya pun teriak kepada ibu saya, “Utiii, telepon.”katanya. Entah mengapa dia tidak mau mengangkat, padahal biasanya dia mau mengangkatnya.  Sementara saya merasa hal itu seperti mimpi. Apalagi kepala saya saat itu pusing jadi membuat saya harus agak lama baru bisa bangun untuk menjaga keseimbangan.

Awalnya telepon yang terdengar biasa saja, ibu mengangkat dengan teriak. Mungkin lawan bicaranya kurang keras sehingga ibu saya kurang jelas mendengarnya. Namun lama-kelaman nada suara ibu terdengar seperti kaget. Kalau bahasa Jawanya gupuh, groyok, ndredeg semacam itulah. “Iyaa, bapak sedang pergi ke bank. Ambil gaji. Sendiri. Sudah tua. Naik colt. Dimana?” putus-putus saya mendengar suara ibu menjawab telepon itu.

Kemudian saya memutuskan untuk segera mendekat. Sebelum saya membuka pintu kamar, ternyata ibu saya sudah memberi isyarat kepada keponakan saya untuk memanggil saya di kamar. “Te, diceluk Uti,” katanya.

Saya langsung mendekat ke arah ibu. Ibu terlihat kacau, menangis, memegang telepon dengan bergetar. Saya yakinn beliau sudah tidak konsen lagi untuk diajak bicara. Saya pun mendadak curiga dengan si penepon. Karena saat itu ibu saya sedang berusaha menulis nomor hape. Sempat terdengar sebelumnya ibu berbicara kepada si penelepon, “Bapak tidak bawa hape,”teriaknya.

Saya sedang meraba-raba apa inti dari telepon itu sambil memegang pundak ibu. Saya tidak mau terjadi apa-apa dengan ibu saya.  Saya curiga dengan telepon tersebut bisa jadi mengabarkan bahwa bapak saya mengalami kejadian yang buruk tetapi saya belum terlalu yakin karena tidak berbicara langsung dengan si penepon. Dan sebelum saya mengambil telepon tiba-tiba dari luar saya seperti mendengar suara jalan dan suara bapak saya.

Saya berusaha memberi tahu ibu dengan memegang tangannya namun ibu masih konsentrasi dengan telepon itu. Dan ternyata bapak saya tidak sendirian. Beliau diantar ibu teman saya yang juga kenalan keluarga kami yang sudah seperti saudara, saya biasa memanggilnya Bulik. “Napa budhe?”kata bulik

Akhirnya ibu sadar bahwa bapak sudah pulang. “Ini bapak sudah pulang. Salah tadi. Berarti bukan bapak. Apa? Anak? Anak saya kerja. Ini bapak sudah pulang,” teriak ibu lagi, masih menanggapi telepon. Dan tiba-tiba beliau meletakkan gagang telepon.

Setelah ibu meletakkan gagang telepon, langsung ditanggapi oleh bulik. “Niki wau wonten napa Budhe?”tanya bulik.

Langsung ibu cerita, “Niki wau wonten telepon ngabari menawi bapak kecelakaan dirawat wonten UGD Pacitan. Keadaanipun parah.”jelas ibu. “Oalah budhe, ampun percaya ngaten niku. Niku ngapusi. Lha niki bapak sampun kondur. Sampun sakmenika mendha rumiyin, sareh.”kata bulik. Karena saat itu kondisi ibu saya benar-benar kacau. Mengangis, tangan gemetar. Alhamdulillah ibu saya tidak memiliki penyakit jantung dan kondisi tubuhnya juga tidak sedang sakit.

Akhirnya sudah jelas apa tujuan dari telepon itu. Penipuan. Karena kata ibu saya, si penelepon tadi mengaku dari Polres. Menjelaskan bahwa bapak saya mengalami kecelakaan dan terluka parah. Dan dirawat di UGD. Saya kurang tau apalagi yang dikatakan si penelepon. Namun mungkin karena ibu sudah kaget, gupuh, khawatir akhirnya tidak terlalu memperhatikan kata-kata penelepon lainnya. Saat itu penepon mengatakan bahwa hape bapak sedang dibawanya. Padahal bapak tidak memiliki hape. Dan ibu tidak langsung menyadarinya.

Kemudian nomor hape yang sebelumnya ditulis ibu, ternyata nomor hape yang dikatakan nomor dokter yang merawat bapak saya. Nah, selain itu penepon juga mengatakan bahwa selain bapak ada satu lagi yaitu anaknya yang kecelakaan. Dan lagi-lagi (mungkin) alam bawah sadar ibu belum juga sadar bahwa telepon itu salah karena masih sempat menjawab bahwa anaknya sedang kerja.

Dan saat ibu mengatakan bapak sudah pulang berkali-kali, dan tiba-tiba menutup telepon tadi, ternyata di penelepon lah yang tiba-tiba menutup teleponnya.

Melalui keterangan dari bulik, ternyata sebelumnya di beberapa tempat di daerah saya sedang lumayan marak kejadian tersebut. Telepon yang mengatakan bahwa bapak atau anak telah mengalami kecelakaan, dan dirawat di rumah sakit. Kemudian ujung-ujungnya meminta uang untuk ditransfer terlebih dahulu agar perawatan segera bisa dilakukan, dan lainnya.

Untuk meyakinkan bahwa kakak-kakak saya dalam keadaan baik, saya pun mengirimkan SMS ke mereka. Dan memang mereka sedang bekerja🙂

Sekali lagi saya bersyukur bahwa ibu saya baik-baik saya dan tidak memiliki penyakit jantung dan saat itu sedang dalam keadaan sehat. Saya juga bersyukur saat itu bapak saya diantar pulang oleh bulik, ibu teman saya sehingga bisa segera sampai di rumah. Saya bersyukur karena saat itu saya juga berada di rumah. Karena saya tidak tahu bagaimana jika saat itu hanya ada ibu dan keponakan saya saja. Karena sudah jelas bahwa si penelopon bertujuan menyerang alam bawah sadar ibu saya, yang mungkin biasa dikenal dengan teknik hypnosis atau hipnotis.

Jelas itu yang dilakukan, entah si penepon sadar atau tidak apa yang dilakukannya. Entah bagaimana ia memperoleh nomor telepon dan mengetahui bapak sedang pergi. Bisa juga saat itu dia untung-untungan melakukannya.

Untuk diketahui saja dalam proses hypnosis ada beberapa cara yang biasanya dilakukan dalam proses kejahatan, :

  • Dengan tatapan mata,
  • Tepukan pada bagian tubuh misalnya pundak dan lainnya,
  • Dengan suara yaitu menggunakan telepon seperti yang terjadi pada ibu saya.

Pada kasus yang menggunakan telepon, biasanya calon korban diberikan informasi yang menyenangkan atau menyedihkan. Menyenangkan misalnya pemberitahuan telah memperoleh hadiah uang tunai atau mobil. Untuk berita menyedihkan seperti yang terjadi pada ibu saya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi?  Menurut Prof. Heru Kurnianto Tjahyono yang pernah saya wawancarai (saat masih berprofesi mirip wartawan :p) beliau mengatakan bahwa dalam keadaan senang berlebihan maupun sedih berlebihan itu membuat pikiran sadar kita beristirahat, critical area terbuka sehingga secara otomatis mengaktifkan pikiran bawah sadar. Akibatnya tidak sedikit orang yang kemudian tidak sadar, akan atau telah mengirimkan uang puluhan juta rupiah kepada orang yang tidak dikenal.

Dan akhirnya hal ini membuat saya mengingatkan kepada teman-teman semua. Siapa saja yang saat ini tengah jauh dari orang tua baik sudah menikah atau belum untuk selalu waspada dan berpesan kepada orang tua masing-masing. Untuk berhati-hati. Apalagi jika memiliki telepon maupun telepon seluler. Agar tidak mudah percaya dengan telepon yang masuk. Sebaiknya segera melakukan kroscek atau telepon ke nomor teman-teman.

Anda atau teman-teman bisa saja menganggap remeh, karena awalnya dahulu juga yakin bahwa ibu saya tidak akan mudah percaya akan hal tersebut. Namun suami, anak dan keluarga adalah segalanya bagi ibu. Apalagi sedang pergi jauh tentu ketika terdapat kabar mengenai kejadian yang tidak diinginkan jelas akan mengagetkan. Sehingga ada baiknya :

  • Secara berkala misalnya satu minggu sekali berikan kabar anda kepada orang tua.
  • Jika memiliki nomor hape lebih dari satu, jangan lupa untuk memberitahunya. Hal ini diperlukan agar sewaktu-waktu lebih mudah menghubungi anda. Tidak sedikit kasus penipuan yang “sukses” karena secara kebetulan telepon anaknya tidak bisa dihubungi pada saat memperoleh berita kecelakaan tersebut. Bisa dibayangkan bagaimana mudahnya si penipu tersebut?
  • Jika hape atau nomor tidak aktif sebisa mungkin informasikan kepada orang-orang rumah baik ibu, bapak atau kakak anda.

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Dan selalu berdoa agar selalu dilindungi Allah SWT. Aamiin. Karena saya percaya apa yang terjadi bukan kebetulan tetapi semua sudah direncakanNya. Si penipu punya rencana tetapi Allah juga punya rencana yang lebih jitu🙂 Alhamdulillah telah dihindarkan dari hal-hal yang tidak diinginkan.

*gambar diambil dari sukalupa.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: