Sirih Sekaten dan Peringatan Maulid Nabi


dagangan simbah sekaten

Selasa (22/1/2012) sore menjelang tiga hari ditutupnya perayaan Sekaten di Alun-Alun Utara Yogyakarta, saya menyempatkan diri untuk mengujunginya. Sebatas hanya ingin menikmati nasi uduk (gurih) dan sebagai pelengkap telah mengunjungi perayaan tahunan tersebut. Sebuah perayaan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dimana perayaan tersebut ditutup dengan grebeg, ada semacam gunungan yang di dalamnya terdapat banyak makanan, sayuran, dan lainnya. Nantinya akan diperebutkan oleh masyarakat sekitar karena dipercaya mendatangkan berkah, wallahu a’lam. Lebih lengkap soal sekaten silakan klik di sini

Setelah menikmati nasi uduk yang kali ini saya salah tempat, karena terlalu asin, kemudian saya memutuskan untuk pulang. Hari semakin malam, kendaraan semakin berdatangan, orang-orang pun semakin menyemut dalam keramaian. Namun sebelum saya memutuskan pulang, saya menyempatkan untuk membeli sirih yang biasa dijual pada saat sekaten. Sirih banyak dikunyah oleh orang zaman dahulu untuk memperkuat gigi mereka. Setelah dikunyah akan membuat air liur yang diproduksi jauh lebih banyak dan ingin meludah. Air liur pun berubah warna menjadi kemerahan.

Sirih tersebut telah digulung, di dalamnya terdapat semacam bumbu yaitu kapur sirih dan entah apa namanya serta dilengkapi tembakau yang agak basah. Ada kalanya ditambah dengan bunga kantil atau melati. Saya pun memilih penjual yang sudah sepuh atau simbah-simbah. Saya membeli sirih tersebut bukan karena suka namun ingin sekedar membantu menghabiskan jualan simbah tersebut. Meskipun saya hanya membeli dua sirih saja🙂

penjual sirih sekaten

Toh, sirih tersebut tetap akan saya kunyah, daripada mubadzir hehehe, Saya iseng mencoba mengunyahnya begitu sudah sampai di kamar kost. Kurang kerjaan memang. Namun saya (hampir) selalu mencobanya, dan merasakan sensasi getir, agak pedas ketika sirih dikunyah hehe, Pada kunyahan pertama, yang terasa adalah bau khas daun sirih, rasa getar, pedas dan terasa kasar serta aneh di mulut. Lama-kelamaan mulut akan mengeluarkan lebih banyak air liur dan ingin meludah. Saat meludah, air liur berubah warna menjadi kemerahan. Saya pun menghentikan aktivitas mengunyah sirih. Aktivitas selanjutnya adalah saya sibuk meludah. Dan diakhiri dengan menyikat gigi saya, karena tidak tahan dengan sensasi getar dan lainnya yang ditimbulkan daun sirih.

Namun, dampaknya cukup terasa. Gigi terasa lebih bersih dan nyaman. Mungkin saya akan mencobanya lagi pada sekaten tahun depan, jika masih diberi kesempatan🙂. Pada akhirnya sekaten akan memberikan rezeki pada para simbah yang mencoba memperoleh tambahan penghasilan mereka dengan menjual sirih. Entah berapa keuntungan yang diperoleh dari setiap sirih yang dijual dengan harga Rp 1000,- tersebut.

Peringatan Maulid Nabi

Setiap tahun, pada setiap perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, di berbagai daerah di Indoneseia memiliki perayaan yang berbeda. Di Surakarta dan Yogyakarta selama sebulan penuh terdapat Sekaten yang ditutup dengan Grebeg Muludan. Berbeda lagi dengan daerah lain. Termasuk yang ada di daerah saya yaitu Pacitan, Jawa Timur.

Di berbagai kecamatan di kabupaten Pacitan, Jawa Timur, dalam pengetahuan saya setelah bertanya kepada orang tua dan sesepuh lainnya (maaf jika salah) perayaan Maulid Nabi dilakukan dengan makan bersama di masjid. Tradisi ini dinamakan Muludan. Dimana setiap Kepala Keluarga pada hari perayaan tersebut (untuk tahun ini bertepatan dengan tanggal 24 Januari 2013) membawa nasi uduk secukupnya pada sebuah nampan, tampah atau baskom atau tempat lainnya. Kemudian di atas nasi tersebut ditaruh seekor ayam yang sudah dimasak. Ayam tersebut dalam keadaan utuh, tentu saja isi perutnya telah diambil. Masakan ayam tersebut biasa disebut ingkung.

Setelah terkumpul di masjid, setiap nasi dan ayam yang dibawa warga semuanya diambil namun hanya secukupnya saja. Misalnya nasi hanya diambil satu porsi kemudian ayam ingkung tersebut diambil salah satu bagiannya misalnya paha atau sayapnya saja. Nah, sisa nasi dan ayam tersebut nantinya dibawa oleh pemiliknya untuk dimakan di rumah masing-masing.
Tidak ada ritual apapun, hanya makan-makan nasi dan ayam yang dibawa dari rumah. Sebelumnya diisi pengajian sebentar dan pembacaan doa. Setelah itu makan bersama. Hanya itu saja.

Adanya berbagai perayaan yang ada tentunya membawa pro dan kontra. Tidak setiap orang menyetujuinya. Bisa jadi karena memang tidak ada anjuran dalam Al-Qur’an dan Hadist. Namun saya melihatnya dari sisi yang berbeda. Maaf jika saya salah dan Anda tidak sependapat.

Diselenggarakannya perayaan tersebut akan membuat jalinan silaturahmi antar tetangga bisa terjaga. Misalnya dalam kegiatan yang ada di tempat saya tersebut. Masing-masing akan mengetahui bahwa tetangganya dalam keadaan sehat. Bahkan melalui acara tersebut adakalnya menjadi tahu ternyata ada tetangga lain yang sedang sakit dan lainnya. Tidak hanya itu saja, melalui acara tersebut akan membantu anak-anak melakukan sosialisasi dengan dunia luar. Dengan banyak orang, baik teman sebaya maupun orang tua.

Membuat anak-anak belajar menghormati orang tua dan menjaga sikap pada saat di tempat umum. Setidaknya itulah yang saya rasakan sejak dahulu setiap mengikuti acara perayaan tersebut. Selain itu akan mendorong keingintahuan mereka mengapa diselenggarakan acara tersebut. Dan akhirnya akan membuatnya mengetahui tentang budaya di tempat mereka. Toh, dalam acara tersebut tidak terdapat unsur klenik sama sekali. Hanya berkumpul dan makan bersama. Entah bagaimana di daerah lainnya. Setidaknya itulah gambaran kecil dari Indonesia yang memiliki banyak budaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: