Lindungi Orangutan Demi Masa Depan


replika orangutanSebuah replika orangutan ditempatkan di pintu masuk ruangan. Menyambut kedatangan setiap pengunjung pameran fotografi ‘Orangutan Rhyme & Blues’ di Bentara Budaya Yogyakarta, 27 Januari – 4 Februari 2013. Berbagai angle tentang orangutan ditampilkan dalam karya foto yang dipamerkan Regina Safri, fotografer kantor berita Antara ini. Mbak Rere begitu saya menyapanya🙂, harus melalui proses panjang untuk memperoleh foto-foto tersebut.

Sebagai catatan, pameran fotografi tersebut merupakan rangkaian dari diskusi & launching buku ‘Orangutan Rhyme & Blues’ karya mbak Rere yang diselenggarakan pada Jumat, 1 Februari 2013 dan sayangnya saya tidak bisa menghadirinya😦

Akhirnya saya sempatkan datang pada Minggu (3/2/2013) siang untuk melihat rangkaian karya fotografi yang luar biasa keren. Ada banyak angle yang diambil. Mulai dari bayi orangutan yang masih imut, bayi orangutan dan para babysitternya, orangutan menggendong anaknya, dan lainnya. mbak Rere sendiri harus melalui proses panjang untuk memperoleh hasil tulisan dan foto tentang orangutan.

pameran fotografi orangutan

Proses pemotretan orangutan tersebut dilakukan di Kalimantan sejak akhir 2011 hingga pertengahan 2012. Awalnya mbak Rere hanya berniat untuk memotret dan meliput kondisi orangutan saja. Jepretan pertamanya dilakukan saat mengikuti kegiatan Yayasan Konservasi Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) di Samboja, Kalimantan Timur. Namun ternyata hatinya tersentuh melihat kondisi orangutan di Kalimantan. Ia tidak sanggup menutup mata, telinga dan hati maupun berlagak cuek atas kondisi para orangutan tersebut. Ia ikut merasakan penderitaan bayi-bayi orangutan yang kehilangan induk mereka melalui sorot mata bayi orangutan tersebut.

Lalu saya bertekad untuk berbuat sesuatu, semampu saya. Dengan menguras uang tabungan yang saya punya dan semangat yang menyala, saya rela bolak-balik Jawa-Kalimantan. Dengan tekad mendokumentasikan kegiatan konservasi orang utan. Hal itu saya lakukan karena saya peduli, itu saja.”paparnya melalui pengantar dalam pameran tersebut.

bayi orang utan

Sendirian perempuan yang lahir tanggal 23 September ini menyusuri jalanan rusak, berganti bus antar provinsi dan bertemu orang-orang yang tak dikenal. Ia pun mengakui telah belajar banyak hal baru tentang orangutan, hutan dan lainnya dalam proses pengumpulan materi foto tersebut. “Saya semakin tahu mengapa orangutan menjadi langka dan harus dilindungi. Karena orangutan mempunyai peranan yang besar terhadap hutan, lingkungan, alam dan untuk manusia. Semakin banyak orangutan tinggal di habitat aslinya maka kehidupan manusia akan semakin baik dan berkualitas.”tambahnya.

buku ‘Orangutan Rhyme & Blues’

Lebih lanjut alumni Ilmu Komunikasi UPN Jogja ini mengungkapkan bahwa kepedulian yang dilakukannya bukan semata-mata hanya kepada orangutan yang semakin langka. Namun juga kepada lingkungan dan nasib generasi berikutnya. “Karena anak cucu kita nanti yang akan merasakan efek rusaknya alam dan lingkungan apabila habitat orangutan dan lingkungan tidak dijaga. Akan semakin sering banjir, cuaca ekstrem yang tidak jelas waktunya, kemarau berkepanjangan, kualitas oksigen yang buruk dan adanya ancaman berbagai macam penyakit.”urainya.

babysitter orangutan

Dalam proses pengumpulan materi foto tersebut mbak Rere juga memperoleh teman, sahabat dan keluarga baru yaitu para relawan dan babysitter, ibu pengganti yang mengasuh bayi-bayi orangutan. Untuk babysitter itu sendiri mbak Rere juga secara khusus menuliskan bab tersendiri di buku tersebut. “Saya sering merasa terharu melihat para babysitter dengan sabar merawat orangutan yang sakit, mengajari orangutan membuat sarang, memilih makan, bahkan menemani bermain. Itulah yang membuat saya akhirnya menuliskannya pada bab tersendiri sebagai bentuk penghargaan saya terhadap mereka.”jelasnya.

menggendong bayi orangutan

Selain menuliskan babysitter pada bab tersendiri, mbak Rere juga menuliskan bab tersendiri untuk proses pelepasliaran orangutan. Karena proses pelepasliaran yang dilakukan para teknisi pelepasliaran tersebut sangat sulit, perlu kerja keras untuk membawa orangutan dan melepasnya ke pelosok hutan.

pin untuk donasi

Dalam pameran tersebut para pengunjung bisa membeli buku ‘Orangutan Rhyme & Blues’ , kaos dengan gambar orangutan, serta pin bergambar orangutan. Setiap penjualan buku, kaos dan pin tersebut didonasikan untuk rehabilitasi satwa liar di Wildlife Rescue Centre (WRC) Yogyakarta yang terletak di Dusun Paingan, Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulonprogo.

kaos donasi

Karya luar biasa dan tidak setengah-setengah. Bahkan pada saat pameran dan launching buku pun, mbak Rere juga mendonasikannya untuk rehabilitasi satwa liar. Dan jujur saja, saya sendiri juga baru mengetahui tentang pentingnya orangutan dilindugi juga dari penjelasan tersebut. Karena selama ini saya kurang paham mengenai hal tersebut. Akhirnya saya ucapkan selamat untuk mbak Rere atas karyanya yang luar biasa. Semoga memberikan manfaat bagi lebih banyak orang🙂

save our orangutan

save our orangutan

2 responses

  1. buku orang utan rhyme & Blues bisa di dapat dimana ya? thx

    1. ke twitter penulisnya langsung aja mbak, ke mbak regina safri🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: