Rahasia Bangunan Berbentuk Burung


Setiap bangunan apapun itu termasuk rumah pastilah memiliki cerita. Bisa sejarahnya, mungkin bagaimana cara mendirikannya, berapa lama pembuatannya, tujuan pembangunannya, dan lainnya. Misalnya rumah kita atau rumah orang tua kita. Pasti memiliki cerita. Mungkin berapa tahun orang tua kita harus mengumpulkan uang untuk membuat rumah tersebut, mungkin berapa lama orang tua kita mengumpulkan material rumah tersebut, bisa juga mengapa memilih lokasi tersebut untuk tempat tinggalnya nanti dan cerita lainnya.

Bagaimana dengan cerita bangunan lain? pasti berbeda.

Senin (1/7/2013) saya dan ketiga teman baik saya gerombolan Komunitas ini yaitu Arni, Niniek dan Sholeh sengaja piknik untuk mencari tempat menarik di Jogja dan sekitarnya yang belum dikunjungi. Akhirnya kami memutuskan untuk menuju sebuah lokasi di Magelang, Jawa Tengah yang belum pernah dikunjungi sebelumnya yaitu bangunan yang dikatakan sebagai gereja berbentuk burung. Akhirnya kami berempat pergi tanpa tahu dimana lokasi tempat tersebut.

Hasilnya nihil setelah bertanya ke beberapa teman yang tinggal di Magelang. Akhirnya kami memperoleh informasi bagaimana menuju lokasi tersebut melalui google. Ada banyak blog yang menceritakan mengenai Bukit Rhema yang menjadi lokasi bangunan tersebut. Salah satunya blog ini.

Benar. Apa yang akan saya ceritakan adalah tentang rahasia bangunan tersebut. Anda sudah pernah mengunjunginya? Kalau belum, bisa dibaca cerita ini untuk menambah informasi. Begitu pula dengan Anda yang sudah pernah mengunjunginya, bisa jadi belum mengetahui tentang informasi ini🙂

Bertanya adalah senjata saat kita tidak mengetahui arah yang akan kita tuju. Itulah yang kami lakukan, berkali-kali. Setelah berpuluh kilo kami lalui, berderet sawah dan rumah kita lewati, tibalah saatnya kami sampai di lokasi.

“Tinggal jalan aja ke kanan, dekat kok, sekitar 100 meteran lagi,” kata seorang bapak saat kami bertanya kepada orang yang kami temui untuk kesekian kali.

Akhirnya kami menitipkan motor di rumah tersebut. Karena menurut mereka jalan tersebut akan sulit untuk dilalui motor.

Berempat kami mulai berjalan. Jalan berbatu dan menanjak telah menanti kami. 100 meter hanyalah ilusi karena kami sudah mulai menata diri untuk mengambil setiap oksigen yang menemani kami. Benar. Jalan menanjak tersebut bukan hanya 100 meter. Bisa jadi mencapai 300 meter. Bangunan megah berbentuk burung telah menanti kami. Burung tegak berdiri dengan mulut terbuka, penuh rahasia dengan rerumputan dan pepohonan yang tinggi di sekitarnya.

bangunan burungBerjalanlah kami mengitarinya. Bangunan tersebut tampak belum jadi sebenarnya. Itulah kesan pertama yang saya tangkap. Dinding masih semen kasar, belum diplamir kalau kata tukang bangunan yang sering membantu memperbaiki rumah orang tua saya. Kawat-kawat sisa cakar ayam (kerangka bangunan) masih menjuntai, baik di luar maupun dalam.

Kesan seram? Jelas. Bangunan itu tampak penuh rahasia. Apalagi kalau malam, pasti lebih seram. “Kamu ditinggal di sini aja, terus seminggu lagi baru dijemput,” gurau Sholeh kepada saya. Menurutnya, saya harus tinggal lebih lama untuk mengetahui lebih dalam mengenai rahasia bangunan tersebut.
bagian samping belakang bangunan

Menjelajah lebih dalam

Awalnya ragu-ragu untuk masuk ke dalam. Tetapi dorongan penasaran akhirnya memenangkan pertarungan daripada keraguan. Bergiliran kami melompati celah semacam jendela untuk masuk ke dalam. Begitu di dalam semakin yakinlah saya bahwa bangunan itu memang sebenarnya belum benar-benar jadi. Masih setengah jadi kalau kata saya.

Kami menemukan sebuah jalan ke bawah. Sebuah jalan gelap. Berbekal ponsel senter milik saya, yang tidak terlalu membantu sebenarnya, kami pun beriringan memasukinya. Penasaran, ngeri, dan membayangkan adanya kejutan di dalamnya pun sudah dibayangkan. Saya berada di barisan paling belakang.

Ternyata di dalamnya ada ruangan-ruangan terpisah. Kecil seperti kamar atau bilik. Tidak adanya cahaya menambah suasana mencekam. Berjalan lurus ternyata buntu, kemudian kami pun belok ke kanan. Sebelum saya belok kiri, saya mendengar suara. Suara seorang wanita dari arah depan saya. Awalnya saya berniat menengoknya. Tetapi niat itu saya urungkan karena berbagai pertimbangan.

Sholeh diikuti Niniek terus berjalan di depan, diikuti Arni kemudian saya. Kami akhirnya menemukan cahaya terang. Ternyata perjalanan tersebut berakhir di pintu depan yang sudah kami lalu sebelumnya. Kami masuk melalui (mungkin) jendela di lantai dua. Kemudian kami menyusuri ruangan yang membawa kami ke lantai satu atau dasar bangunan tersebut.

Setelah sampai di luar, saya menceritakan apa yang saya dengar saat di dalam ruangan tersebut. Sholeh dan Niniek tidak mendengarnya. Namun Arni ternyata juga mendengarnya. Baiklah saya tidak salah. Lega karena bisa jadi dugaan saya benar adanya.

Rahasia bangunan itu adalah …..

Jadi bangunan apa itu? Entah mengapa, saya tidak begitu yakin apakah itu sebuah gereja. Untuk menjawab rasa penasaran, akhirnya kami bertanya kepada bapak atau kakek lebih tepatnya di rumah yang menjadi tempat menitipkan motor Arni dan Sholeh.

“Itu gedung pertemuan atau hotel,” kata kakek tersebut menjawab pertanyaan saya.

Menurut Ali Sahri, nama kakek tersebut. Bangunan berbentuk burung itu sudah dibangun sekitar tahun 1982. “Sudah lama, mungkin sekitar 30 tahun yang lalu,”urainya.

Dalam penuturannya, bangunan itu didirikan oleh seorang pria keturunan Cina yang bernama Daniel. Daniel ini memperistri orang daerah sana. Nah, saat itu Daniel kemudian mendirikan bangunan tersebut, tetapi dalam pengakuan Ali, masyarakat setempat tidak terlalu mengetahui tujuan pembangunannya. Pernyataan Ali ini didukung oleh anak atau cucunya, saya lupa bertanya.

Ada yang mengatakan sebuah gereja, hotel atau gedung pertemuan. Tidak ada yang tahu. Hingga akhirnya pembangunannya dihentikan. “Kekurangan uang jadi berhenti,”kata anak atau cucu Kakek Ali tersebut.

Akhirnya bangunan tersebut terbengkalai. Lambat laun, bisa jadi adanya informasi dari mulut ke mulut dengan dukungan artikel melalui berbagai blog di dunia maya, bangunan tersebut pun selalu ramai dikunjungi. “Terutama anak-anak muda,” jelas Ali.

“Seperti motor yang satu itu (selain dua motor Arni dan Sholeh) dari pagi belum juga pulang. Yak e dho teturon nganggo kasur ijo (mungkin pada tiduran menggunakan kasur hijau (rumput)),” katanya sambil terkekeh.

Baiklah berarti dugaan saya terkait suara wanita tersebut (mungkin) benar.

Akhirnya apapun tujuan pendirian bangunan tersebut menyisakan banyak hal. Menyisakan rahasia bangunan apa itu sebenarnya, tujuan pendirian bangunan itu. Namun setidaknya adanya banyak pengunjung bisa menambah penghasilan Kakek Ali yang ternyata sudah berusia sekitar 92 tahun tersebut melalui uang parkir para pengunjung.

Namun satu hal yang menjadi PR, adanya kemungkinan disalahgunakannya salah satu bilik bangunan tersebut oleh pasangan-pasangan yang tidak tahan berduaan di tempat sepi hanya dengan diam tanpa berpegangan dan kelanjutannya silakan jawab sendiri. Anda boleh menebaknya sesuai keinginan🙂

Penasaran? Silakan saja kunjungi bangunan tersebut di Dusun Gombong. Jika dari arah Jogja, masuk kabupaten Magelang, melewati pertigaan ‘palbapang’ ke kiri terus saja sampai Kecamatan Borobudur. Cari saja Desa Kembanglimus atau silakan tanya ke penduduk lokal lokasi bangunan berbentuk burung di Bukit Rhema dimana lokasinya. Maka Anda pun akan menemukan jawabnya, silakan mencoba🙂

One response

  1. […] bilah-bilah bambu. Senyuman ramah menyambut kedatangan kami yang baru saja turun melihat rahasia sebuah bangunan berbentuk burung yang ada di Dusun Gombong tersebut pada Senin (1/7/2013) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: