Resensi “Di Hadapan Rahasia” Adimas Immanuel


Judul Buku : Di Hadapan Rahasia
Pengarang : Adimas Immanuel
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 2015 
Tebal : 104 hlm ; 20 cm

resensi di hadapan rahasia

Buku ini berisi 70 puisi. Ini adalah buku puisi berbahasa Indonesia kedua yang saya baca setelah Aku Binatang Jalang – Chairil Anwar. Iya, saya termasuk orang yang sangat jarang membaca puisi. Bagi saya puisi adalah karya sastra yang rumit dan sulit dimengerti. Setiap kata merupakan tanda dan memiliki makna tersendiri. Setiap diksi memiliki efek yang sulit dipahami.

Puisi ibarat musik adalah musik klasik, setidaknya itu menurut saya. Rangkaian kata indah yang menghadirkan banyak makna. Namun belakangan saya belajar membaca puisi dan belajar menulis puisi. Inilah yang mendorong saya untuk membeli dan membaca buku kumpulan puisi milik Adimas Imanuel. Bisa dikatakan ini adalah buku puisi pemilik akun twitter @adimasnuel pertama yang saya baca.

Buku ini dilengkapi dengan ilustrasi gambar penuh misteri. Dan ketika setiap ilustrasi tersebut dipotong dan disambung akan seperti desain sampul, gambar seorang pria yang (kemungkinan) sedang menengadah. Chenska Sp. adalah sosok di balik desain sampul dan ilustrasi buku ini.

Dalam memahami puisi, bagi saya orang yang masih belajar membaca puisi, maka membuka halaman demi halaman dan mambacanya benar-benar memerlukan waktu untuk memahaminya. Membaca dengan pelan dan merasakan apa maksud dari setiap tulisan.

Puisi pertama berjudul Menanam Rahasia (hlm 9) menarik hati saya. Puisi ini saya pahami sebagai gambaran seseorang yang memiliki rahasia dalam hidupnya. Baik atau buruk rahasia yang dimilikinya tersebut akan dijaganya terus menerus dengan segala konsekuensinya. Menyesalinya atau justru melupakannya.

Puisi kedua membuat saya berhenti membaca. Mengapa? Karena saya tidak paham apa itu Taswir. Iya puisi kedua berjudul Taswir. Akhirnya saya mencari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) akhirnya saya menemukan artinya.

Akhirnya saya memutuskan untuk membaca buku sekilas terlebih dahulu. Saya buka setiap puisi dan ternyata dari setiap judul-judulnya tidak sepenuhnya saya mengerti. Saya lanjutkan mencari artinya melalui KBBI. Benar. Ada banyak kata yang saya belum mengerti. Selain Taswir saya dikagetkan dengan Sakal, Rahat, Anopsia, Takwil dan seterusnya. Semua adalah bahasa Indonesia.

Membaca buku ini membuat saya menyadari, saya belum mengenal bahasa ibu saya, saya belum mengenal bahasa nasional saya, saya belum mengenal bahasa Indonesia. Kemana saja saya selama ini?

Akhirnya saya putuskan untuk mengerti terlebih dahulu setiap kata yang saya pikir asing dan saya mencari maksudnya terlebih dahulu melalui KBBI. Terlalu rumit? Ribet? Tidak mengapa setidaknya saya menikmatinya.

Adimas Immanuel benar-benar mampu merangkai setiap kata dengan indah. Pilihan kata dan makna yang ada di dalamnya. Saya masih belajar membaca dan memahami puisi tetapi saya menyukainya. Salah satu puisi yang membuat saya terpana adalah puisi yang berjudul Di Altar (hlm 35)

Laut tak pernah bilang ia paling setia,
tapi ikan – ikan kecil, batuan karang,
nelayan dan ganggang menyadarinya.

Hutan tak pernah bilang ia paling setia,
tapi serangga, hewan-hewan pengerat,
pohon-pohon dan sungai mengakuinya.
…….

Puisi ini berisi empat bait dan saya memahaminya sebagai puisi yang menggambarkan apa sebenarnya arti kesetiaan. Seringkali kita begitu heboh dan menuntut kesetiaan dari pasangan namun tidak benar-benar memahami apa arti kesetiaan. Namun Adimas Immanuel berhasil menggambarkan dengan indah apa arti kesetiaan yang sering kita perdebatkan. Puisi ini juga memperoleh pujian dari salah satu teman saya dari Philipina. Saya memperlihatkan terjemahan puisi tersebut kepadanya dan dia pun berkomentar “What a beautiful poem”. Setidaknya bukan saya saja yang menganggap puisi ini begitu indah.

Pemahamanan saya atas puisi tersebut bisa jadi berbeda dengan Anda atau bahkan dengan Adimas Immanuel sendiri. Bagi saya ini adalah hal yang wajar ketika proses pembacaan yang saya lakukan berbeda. Hal ini tidak lain karena perbedaan “pengalaman” yang dialami masing-masing, apalagi bagi saya yang notabene masih dalam proses belajar membaca dan memahami puisi. Bahkan Umberto Eco memiliki teori terhadap perbedaan pembacaan ini. Eco (1965) menyebutnya sebagai abberant decoding. Pengalaman membaca, lingkungan, pengetahuan mempengaruhi perbedaan tersebut.

Dan pemahaman pembacaan ini saya yakin akan berbeda dalam setiap puisi. Apalagi puisi yang ditulis Adimas Immanuel ini terdiri dari 70 puisi. Dimana puisi tersebut terinspirasi pula oleh game dan juga lukisan.

Bagi saya, membaca puisi yang paling utama adalah ketika membacanya saya bisa merasakan dan membayangkan atau menggambarkan apa yang dideskripsikan oleh penulis. Seperti dalam puisi Sepeda Tua (hlm 64).

Duduklah di belakang. Duduklah meski bantalannya tak empuk benar. Duduklah sambil menikmati guguran daun, sejuk embun pagi hari, tetangga yang masih saling menyapa, dan sejumlah wajah yang kita lihat saling menyapa, dann sejumlah wajah yang kita lihat sepintas dan tak akan kita jumpai.

Baru membaca bait pertama dari lima baik puisi, saya bisa membayangkan dan merasakan maksudnya. Keindahan keramahan orang yang kita kenal ketika kita bertatap muka dengan mereka saat berada dalam boncengan sepeda. Puisi ini begitu indah. Menggambarkan keindahan lingkungan sekitar kita yang mungkin saja kita abaikan.

Mengulas satu demi satu setiap puisi tentu tidak akan menjadi sebuah resensi bukan? Tetapi akan menjadi sebuah laporan penelitian panjang dengan setiap teori yang mungkin saya tidak bisa menjangkaunya. Namun bagi kamu, kalian dan Anda semua yang suka membaca apalagi suka membaca puisi saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca.

Bahkan untuk pelajaran sastra atau bahasa Indonesia untuk pelajar, buku ini menurut saya perlu dibaca. Menambah perbendaharaan kata-kata dalam bahasa Indonesia seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya. Menambah pengalaman bagaimana melihat lingkungan sekitar dan menuliskannya dengan keindahan melalui pilihan diksi yang penuh dengan arti. Semoga saja banyak guru bahasa Indonesia yang mengetahui adanya buku ini dan tertarik untuk mengenalkannya pada anak didik mereka.

Akhirnya…saya ingin mengatakan bahwasanya puisi itu indah. Puisi itu memiliki banyak arti. Setiap pembaca memiliki hak untuk memahami setiap diksi sesuai dengan hati dalam diri. Buku-buku yang sebelumnya dibaca dan pengalaman yang telah dialami akan sangat mempengaruhi. Jadi selamat mencari buku ini sehingga paham apa yang saya maksud dalam tulisan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: